“Ada dua cara menjalani hidup, yaitu menjalaninya dengan keajaiban-keajaiban atau menjalaninya dengan biasa-biasa saja“ (Albert Einstein). "Jika ingin menjadi seorang peneliti, maka jadilah peneliti yang menapak bumi jangan jadi peneliti yang hanya pintar di atas meja".

Kamis, 31 Maret 2011

PROSPEK PENGEMBANGAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU

Oleh: Anita Hafsari
Hasil hutan bukan kayu (HHBK) adalah sumberdaya hutan yang memiliki keunggulan komparatif dan paling bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar hutan. Hasil hutan bukan kayu merupakan barang yang telah dipungut secara rutin sejak hutan dikenal manusia, manfaatnya untuk berbagai tujuan. Karena itu, hasil hutan bukan kayu telah berperan penting dalam membuka kesempatan kerja bagi anggota masyarakat disekitar hutan, merupakan komoditi perdagangan yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat (Djajapertjanda dan Sumardjani, 2001). Sesuai ketentuan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 23, disebutkan bahwa pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan bertujuan untuk memperoleh manfaat yang optimal bagi kesejahteraan seluruh masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya. Dalam pedoman ini pemanfaatan hasil hutan non-kayu adalah pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) melalui pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan menerapkan prinsip kelestarian dan tetap memperhatikan fungsi hutan. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan tetap memperhatikan fungsi hutan dan aspek kelestarian hutan. Beberapa jenis HHBK mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, antara lain: rotan, madu, kemiri, gaharu, sutera alam, gondorukem, dll. Jenis-jenis tersebut memiliki prospek pasar baik di dalam maupun di luar negeri.
Prospek HHBK dimasa yang akan datang diprediksi akan semakin meningkat seiring dengan adanya batasan pemanenan kayu sebagai komoditi utama hutan. Makalah ini akan menyajikan beberapa hasil penelitian ekonomi terkait dengan hasil hutan bukan kayu (HHBK).  Penyajian makalah ini ditujukan untuk melihat seberapa besar prospek HHBK untuk dikembangkan dan kontribusinya terhadap pendapatan masyarakat, agar dapt menarik minat para masyarakat dalam mengembang usaha pada HHBK.
Produk HHBK yang disajikan terdiri dari 5 komoditas HHBK unggulan nasional (bambu, sutera alam, lebah madu, gaharu dan rotan) dan komoditas unggulan daerah.

1.  Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Unggulan Nasional
Hasil hutan bukan kayu unngulan nasional yang akan disajikan dalam makalah ini terdiri dari 5 komoditi, yaitu bambu, sutera alam, lebah madu, gaharu dan rotan. Lima komodoti tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan No.35/Menhut-II/2007.

a.  Bambu
Bambu dapat dikategorikan sebagai hasil hutan non-kayu yang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri charcoal, furniture, bambu lapis, laminasi bambu dan bahan bangunan serta bahan bakar/energi ramah lingkungan (seperti arang) untuk mengatasi krisis energi. Adanya perkembangan industri berbasis bambu tersebut, membuka peluang untuk dikembangkannya HHBK bambu. Pengembangan HHBK bambu dapat dimulai dengan usaha budidaya bambu. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 terkait dengan “Kelayakan pengembangan hutan bambu untuk bahan baku industri pengolahan bamboo” di daerah Jawa Barat dan Banten. Budidaya bambu dapat dikembangkan sebagai sistem inti-plasma, dimana petani bambu berperan sebagai plasma dan perusahaan berperan sebagai inti kuat, yang dapat memanfaatkan bambu. Selain hal tersebut, sebagai alternative bamboo dapat dikembangkan menjadi perkebunan. Perkebunan bambu dapat dikembangkan sebagai sistem kehutanan industri.

Dalam penelitian ini dijelaskan prospek perkebunan bambu untuk mendukung bambu berbasis industri seperti arang bambu, mebel, laminasi bambu, papan partikel bambu, industri kertas dll. Untuk tujuan ini, 13 variabel dari bambu telah diidentifikasi sebagai varietas yang sesuai untuk bahan baku industri, terutama arang. Kelayakan ekonomi pembangunan hutan bambu akan ditinjau dalam mendukung industri primer maupun sekunder yang terintegrasi dengan hutan bambu yaitu sebagai konsep kawasan bambu berbasis industri. Analisis ini menggunakan 2 variabel bambu, yaitu bambu temen (Gigantochioa pseudoarundinacae) dan bambu andong (Giganthoochica pseudoarundinacae). Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha yang dilakukan, dalam unit bambu perkebunan seluas 500 ha, dengan 50 tahun investasi, pada tingkat suku bunga 10,95% memiliki nilai kelayakan sebagai berikut : Biaya (diskon) sebesar Rp 35.028.510.000; pendapatan diskon sebesar Rp 80.521.716.000; NPV ( Net Present Value) sebesar Rp 45.493.206.000; BCR (Benefit Cost Ratio) 2,30% dan IRR (Internal Rate of Return) 32,30%. Dari hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa pengusahaan budidaya bambu memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan, karena hasil kelayakan menunjukan hasil yang sangat layak yaitu nilai BCR lebih besar sama dengan 1 dan IRR lebih besar dari suku bunga yang ditetapkan (Effendi, 2009).

b.  Sutera alam
Pengembangan persuteraan alam yang merupakan kegiatan agroindustri yang meliputi pembibitan ulat sutera, budidaya tanaman murbei, pemeliharaan ulat sutera, pemintalan benang, pertenunan, pembatikan/pencelupan, garmen dan pembuatan barang jadi lain termasuk pemasarannya. Sebagai contoh studi kasus pengembangan ulat sutera si Cianjur. Dalam penyediaan ulat sutera, setiap petani menerima ulat kecil instar 3 dari perusahaan intinya untuk memelihara ulat tersebut atau kelompok tani yang telah mampu memelihara ulat kecil. Bibit telur yang diproduksi adalah jenis Bivoltin, dengan sumber bibit telur ulat berasal dari Perum Perhutani. Namun, sampat saat ini, sertifikasi telur belum dapat dilakukan.

Kabupaten Cianjur hingga saat ini baru mengembangkan industri benang sutera, namun benang yang dihasilkan dari reeling dan re-reeling dari mesin sederhana kualitasnya masih belum optimal. Di Kabupaten Cianjur, ada kelompok yang akan memproduksi benang dan bersedia menjadi mitra petani yaitu PT. Petromat Surya Nusantara, KUB Aurarista dan Vedca.

Dalam prosesnya, benang sutera yang dihasilkan dari reeling dan re-reeling setelah di twisting digunakan untuk kegiatan pertenunan. Daerah pertenunan kain sutera antara lain di Sukabumi, Bogor, Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis. Kebutuhan benang sutera untuk Jawa Barat adalah sebanyak 1100 kg pada tahun 2007.

Kebutuhan benang sutera dunia saat ini mencapai 118.000 ton per tahun, sedangkan Indonesia hanya menghasilkan benang 81,5 ton/tahun. Sementara kebutuhan benang sutera domestik 700 ton/tahun, sisanya sebesar 618,5 ton di impor dari China. Sementara kebutuhan kain sutera untuk industri batik, berdasarkan hasil survey pada tahun 2003, yaitu :
·                     Pekalongan : 400.000 m setara dengan 40 ton benang
·                     Solo : 350.000 m setara dengan 35 ton benang
·                     Cirebon : 250.000 m setara dengan 25 ton benang
·                     Garut & Tasikmalaya : 150.000 m setara dengan 15 ton benang

Tingkat produksi kokon hasil pemeliharaan petani masih sangat beragam, yaitu berkisar dari 12 – 43 kg per boks. Dengan produksi kokon sebesar 8.220 kg per tahun. Untuk tingkat perkembangan harga saat ini harga telur ulat sutera 45.000/box belum termasuk ongkos kirim. Jumlah per boks 25.000. Harga ulat kecil untuk petani pemelihara ulat besar Rp. 125.000,-. Harga kokon masih berfluktuasi, berkisar Rp. 13.000 – Rp. 25.000 /kg. Sedangkan harga benang sutera saat ini antara 280.000 per kilogram (Armando, 2008).

Melihat kebutuhan nasional akan benang sutera yang hingga kini sebagian besar belum
terpenuhi, serta peluang pasar di luar negeri yang sangat besar, maka prospek budi daya ulat sutera di masa mendatang akan sangat cerah. Apalagi dengan berkembangnya sektor pariwisata yang antara lain ditandai denga meningkatnya arus kunjungan wisatawan asin yang ternyata menberikan dampak positif terhadap perkembangan industri garmen di dalam negeri. Hal ini dapat diharapkan akan menamabah peluang bagi usaha budi daya ulat sutera dan kain sutera. Berdasarkan hasil kajian kelayakan finansial budidaya ulat sutera yang dilakukan di Taroggong dan kawasan Garut selatan pada lahan rakyat dengan luasan 1 ha, diperoleh nilai feasibilitas : BEP = Rp 1.587.702, payback period = 2,5 th (2 th 6 bulan), NPV = Rp 4.902.000 (estimasi rr=12% dalam waktu 5 tahun), R = 28,4 % dan ROI = 31,2 %(dibulatkan). Dengan demikian sutera memiliki peluang besar untuk dikembangkan (www.garutkab.go.id).

c.  Lebah Madu
Beternak lebah madu memiliki prospek sangat cerah, karena kebutuhan madu dalam negeri sampai saat ini masih belum mencukupi. Harga dari produk lebah yang tinggi, biaya produksi yang relatif murah, tatalaksana pemeliharaan yang mudah dan kondisi lingkungan yang mendukung merupakan peluang emas yang perlu mendapat perhatian.
Di Indonesia sentra perlebahan masih ada di sekitar Jawa meliputi daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dengan jumlah produksi sekitar 2000–2500 Ton untuk lebah budidaya. Kalimantan dan Sumbawa merupakan sentra untuk madu dari perburuan lebah di hutan. Sedang untuk sentra perlebahan dunia ada di CIS (Negara Pecahan Soviet), Jerman, Australia, Jepang dan Italia.
Di Indonesia lebah ini mempunyai nama bermacam-macam, di Jawa disebut tawon gung, gambreng, di Sumatera barat disebut labah gadang, gantuang, kabau, jawi dan sebagainya. Di Tapanuli disebut harinuan, di Kalimantan disebut wani dan di tataran Sunda orang menyebutnya tawon Odeng.
Jenis lebah yang dapat dibudidayakan terdiri dari, Apis cerana, Apis mellifera, Apis Dorsata dan Apis Florea. Untuk pengembangan usaha budidaya lebah madu, Syarif (2005) melakukan penelitian mengenai analisis usaha budidaya lebah madu jenis Apis mellifera di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dalam pembudidayaan lebah madu di peternakan lebah madu investasi yang di butuhkan perstup per peternak adalah Rp 44,649,230 atau 4,465.62 per stup. Rata-rata biaya tetap Rp 4,436,296 atau RP 44,705 per stup dan biaya variabel setiap peternak adalah Rp 146,346 atau Rp14,748 per stup. Jadi total biaya Rp 4,582,642 atau Rp 59,454 per stup. Produksi rata-rata yang diperoleh peternak 614,59 Kg atau 6.19 Kg per stup. Penerimaan rata-rata yang diperoleh peternak sebesar Rp 16,067,442 atau Rp 161,919 per stup dan pendapatan adalah RP 11,631,145 atau Rp 117,213 per stup. Hasil analisa ekonomi yang meliputi BEP dengan titik impas sebesar Rp 46,495, BEP harga sebesar Rp 6,974 per stup. Nilai BCR = 4.16, ROI sebesar 29.62 %, dan PPC rata-rata per stup 4.87 periode atau 9.74 bulan. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa peternak lebah madu apis mellifera telah memberikan keuntungan yang relatif baik, adapun saran kepemilikan stup yang sedikit untuk menambah jumlah kepemilikan stup mereka.
d.  Gaharu
Menurut Peneliti Gaharu dari Litbang Kehutanan Departemen Kehutanan RI, dr Erdy Santoso, gaharu memiliki harga ekonomis yang tinggi serta dapat tumbuh di kawasan hutan tropis. Pengembangan pohon gaharu saat ini belum terlalu banyak dikenal. Hanya orang tertentu yang sudah mengembangkan dan menanam pohon ini. Padahal, keuntungan dari bisnis pohon gaharu dapat mengubah tingkat kesejahteraan warga hanya dalam waktu beberapa tahun. Selain dapat tumbuh di kawasan hutan, pohon gaharu juga dapat tumbuh di pekarangan warga. Sehingga warga memiliki banyak kesempatan untuk menanam pohon yang menghasilkan getah wangi ini. Banyaknya getah yang dihasilkan dari pohon gaharu tergantung dari masa tanam dan panen pohon tersebut. Misalnya untuk usia tanam selama 6 sampai 8 tahun, setiap batang pohon mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram getah gaharu. Sementara harga getah gaharu mencapai Rp 5-20 juta per kilogram. Harga itu tergantung dari jenis dan kualitas getah gaharu. Untuk getah gaharu yang memiliki kualitas rendah dan berwarna kuning laku dijual Rp5 juta per Kg, sedangkan untuk getah pohon gaharu yang berwarga hitam atau dengan kualitas baik laku dijual Rp15-20 juta/kg (Anonim, 2004).
Hanya saja, keberadaan jenis penghasil gaharu alam semakin langka. Saat ini jenis A. malaccensisAppendiks II (langka) menurut CITES, sehingga ekspor atau perdagangannya dipantau dan dibatasi oleh Quota. Gaharu masih dapat dikembangkan pada lahan rakyat. Peluang usaha sangat menjanjikan karena, tingginya harga gubal gaharu disebabkan karena semakin kelangkaannya, disamping kebutuhan akan gaharu itu sendiri. Tidak semua pohon gaharu yang tumbuh secara alam dapat langsung menghasilkan gubal gaharu. Diperlukan teknologi untuk mempercepat pembentukan gubal gaharu. Agribisnis budidaya gaharu merupakan peluang yang menjanjikan. telah masuk dalam kategori
Berdasarkan analisis finansial yang dilakukan oleh Sidik (2007) dalam Suryandari (2008), budidaya gaharu dianggap layak untuk dikembangkan dengan asumsi dalam 1 ha lahan ditanami tanaman penghasil gaharu, kopi, sengon (sebagai pelindung gaharu), pisang dan vanili dengan tingkat pengembalian 8 tahun. Analisis tersebut menghasilkan nilai usaha sebagai berikut: NVP Rp. 605.984.000, BCR 11.88 dan IRR 67.1 % pada tingkat suku bunga 18 %.

e.  Rotan
Prospek rotan untuk memenuhi kebutuhan industri furniture tidak dapat diragukan lagi. Sehingga hasil hutan bukan kayu dari rotan yanga akan dibahas pada makalah ini adalah komoditas HHBK dari rotan yang masih memerlukan pengembangan pasar, sebagai contoh jernang rotan.
 Jernang rotan dikenal dengan sebutan “dragon blood” merupakan salah satu jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi sebagai komoditi ekspor dengan daerah penghasil yaitu propinsi Jambi. Adanya pengembangan tanaman kelapa sawit yang sangat ekspansif, menyebabkan potensi produksi rotan jernang semakin menurun. Upaya untuk meningkatkan kembali produktivitas rotan jernang dapat dilakukan melalui kegiatan budidaya rotan jernang dan dikaji secara ekonomi untuk melihat tingkat efisiensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan ekonomi budidaya rotan jernang.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh NPV, BCR dan IRR masing-masing untuk rotan jernang kualitas 1 sebesar 51.258.856/ha/tahun; 11,9 dan 49% pada tingkat suku bunga 12%, maka rotan jernang kualitas satu (meson) di Desa Lamban Sigatal Kecamatan Pauh Kabupaten Serolangun-Jambi sangat layak untuk dikembangkan. Sedangkan rotan jernang kualitas 2 (Cengkarok) diperoleh nilai NPV, BCR dan IRR masing-masing sebesar Rp. 20.725.284/ha/tahun; 5,4 dan 32%.
Dari informasi diatas, maka budidaya rotan jernang sangat layak dan menarik bagi investor dalam upaya pengembangan HHBK khususnya rotan jernang (Daemonorops sp.) sebagai komoditi ekspor dan mengimbangi laju pertumbuhan tanaman kelapa sawit di provinsi Jambi dan Riau (Effendi dkk, 2010).
Pemasaran jernang tidak dilakukan di pasar, tetapi mengikuti mekanisme sebagai berikut:



 
Gambar. Saluran tataniaga rotan jernang (Effendi dkk, 2010).
Harga jual jernang sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dolar AS, karena jernang merupakan produk ekspor. Pada bulan Agustus 2001 harga jernang pada tingkat petani dihargai sebesar Rp. 250.000 per kilogram dan penjualan ke pengumpul besar seharga Rp 280.000/kg (Anonimus, 2001). Pada tahun 2004 harga jernang dalam bentuk getah mencapai Rp. 500.000 per kilogram, sedangkan pada Desember 2005 (hasil survey mandiri) naik kembali pada harga Rp 750.000/kg pada tingkat petani pengumpul. Perkembangan harga yang demikian fantastis seharusnya mampu menstimulir pertumbuhan usaha jernang, tetapi pada kenyataannya justru jalan di tempat, karena sumber bahan baku masih mengandalkan dari kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Hingga saat ini belum ada upaya eksitu dan budi daya pada lahan Masyarakat.
Menurut catatan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jambi, arus perdagangan domestik belum tercatat, sementara arus perdagangan ekpor tercatat sebanyak 2 kali pada tahun 2004 dan 1 kali pada tahun 2005. Tersendatnya aliran produk ini diakibatkan oleh pasokan jernang yang tidak kontinyu dari pengumpul, sehingga eksportir harus menunggu terpenuhinya jumlah yang cukup untuk dikirim ke Negara tujuan. Ilustrasi di atas cukup ironis, karena di satu sisi demand jernang mengalami perkembangan pesat dan kenaikan harga yang sangat baik di tingkat petani, tetapi di sisi lain tidak diimbangi oleh kesiapan manajemen penyediaan bahan baku yang semestinya agar supply jernang dapat memenuhi permintaan pasar (Rochmayanto, 2007).

PUSTAKA
Armando.2008. Pengembangan Sutera Alam di Kabupaten Cianjur 2008. Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Cianjur. http://www.dephut.go.id/files/PENGEMBANGAN%20SUTERA%20ALAM.pdf [23 Maret 2011].
Effendi, Rachman. 2009. Kelayakan Pengembangan Hutan Bambu Untuk Bahan Baku Industri Pengolahan Bambu. Laporan Hasil Penelitian. Tidak dipublikasikan.
--------------------. 2010. Kelayakan Usaha Pengembangan Budidaya Rotan Jernang (Daemonorops  Sp.) (Studi Kasus Di Desa Lamban Sigatal, Kecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun-Jambi). Laporan Hasil Penelitian. Tidak dipublikasikan

[Kabupaten garut].              . Peluang Investasi Sutera Alam. http://www.garutkab.go.id/galleries/pdf_link/ekonomi/investasi/sutra_alam.pdf
Suryandari, E. 2008. Pengembangan Gaharu di Kabupaten Lombok Barat: Potensi dan Permasalahan. Jurnal Sosial Ekonomi Vol. 8. Hal 217-229.
Syarif, Fahmi. 2005. Analisa Usaha Budidaya Lebah Madu Apis Mellifera Pada Peternak Lebah Madu Di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. http://student-research.umm.ac.id/research/download/umm_student_research_abstract_2236.pdf [23 Maret 2011]

2 komentar:

Sean Gao mengatakan...

Hi ,
Do you selling Dragon`s Blood (Getah Jernanag)? Our Medicine factory can buy it 500kg-1500kg every month if you are supplying it .please contact me at my Singapore Office .
Best Regards
Sean
Kakao Talk ID :HooplaHa
Skype ID: seanchapter
Email:seangao61@gmail.com
+65 81754357
CNTIC TRADING CO,.LTD

Sean Gao mengatakan...

Hi ,
Do you selling Dragon`s Blood (Getah Jernanag)? Our Medicine factory can buy it 500kg-1500kg every month if you are supplying it .please contact me at my Singapore Office .
Best Regards
Sean
Kakao Talk ID :HooplaHa
Skype ID: seanchapter
Email:seangao61@gmail.com
+65 81754357
CNTIC TRADING CO,.LTD